Pro dan Kontra SNMPTN 2013 Tanpa Ujian Tulis

Saat ini tentunya kita semua telah mendengar tentang isu SNMPTN tahun 2013 akan dihapus alias ditiadakan. Tentunya isu ini sangat menarik perhatian masyarakat luas. Beberapa masyarakat kontra pada keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ini, dan ada juga yang pro.

Pada umumnya masyarakat cenderung kontra pada keputusan ini, banyak yang berpendapat bahwa keputusan ini akan  merugikan siswa-siswi sekolah. "Sangat tidak setuju dengan sistem ini. Sekarang sudah terlalu banyak sekolah-sekolah yang memanipulasi nilai agar memperoleh nilai setinggi-tingginya agar bisa diterima di PTN. Kemudian, terjadi perbedaan penilaian antara reguler dan akselerasi otomatis merugikan peserta didik reguler untuk memperoleh kesempatan. Sedangkan, untuk SNMPTN tulis adalah sistem yang lebih baik karena benar-benar menggunakan kemampuan akademik siswa dalam meraih bangku kuliah,"* ujar salah seorang yang mengkomentari salah satu postingan yang berjudul SNMPTN 2013, Hapus Jalur Ujian Tulis. Komentar tersebut telah mewakili satu dari sekian banyaknya komentar yang terdapat di postingan tersebut.


Read more...

Finally, Fixed!!

ALHAMDUUUU... LILLAAAAH yaaa (nada Syahrini hehe).

Ya Allah alhamdulillah banget akhirnya sekarang saya sudah tidak galau-galau mengenai jurusan apa dan universitas mana yang saya akan tuju nantinya. I talked with my parents, my sister and I about the major which the better one that should I choose, I just got it!!

Sebelumnya setelah saya konsultasi dengan guru BIP di Nurul Fikri, saya sudah fix dan mantap dengan hati saya kalau saya ingin masuk matematika! Ya, matematika akan menjadi pilihan jurusan pertama saya nanti, dan Insya Allah saya akan mengambil ilmu murni. Lalu, pilihan kedua saya adalah akuntansi, jurusan tersebut mau tidak mau harus saya pilih karena tuntunan orangtua saya yang hendak menginginkan saya untuk masuk ke jurusan tersebut. Untuk pilihan ketiga saya masih galau, saya ingin pilihan ketiga tersebut diisi dengan sastra inggris, tapi mengingat orangtua saya pernah berkata kalau sebaiknya jangan memlih jurusan tersebut, membuat saya menjadi galau tingkat kelurahan. Sampai pada puncak kegalauan saya tentang pilihan ketiga nanti, saya akhirnya memutuskan untuk membicarakan hal ini pada orangtua saya. Dalam, hati saya selalu berdoa dan terus berharap kalau mereka akan menyetujuinya. Dan... alhamdulillah pilihan yang terakhir adalah... Sastra Ingrris!!!! Yipiiii :)

Wah, saking senangnya, sampai-sampai saya tidak bisa menggambarkan betapa bahagianya saya dapat mendaftarkan jurusan tersebut walaupun di urutan ketiga.  Tak apalah, yang penting dan yang terpenting ada jurusan tersebut di daam pilihan.

Ah, ya! Satu lagi, kalau universitas yang saya akan ambil di ketiga jurusan tersebut adalah UNJ (Universitas Negeri Jakarta). Mengapa saya memilih universitas tersebut? Yah, memang sih awalnya mengikuti kemauan orangtua saya yang tidak mengijinkan saya untuk jauh-jauh dari rumah. Tapi, lama kelamaan saya berpikir, memang lebih baik memilih UNJ karena sebenarnya semua universitas pada umumnya sama, tergantung dari masing-masing diri kita sendiri ;)
Read more...

Peron

Sudah selama seminggu ini aku tidak pernah melihatnya lagi di peron. Kemana dirinya? Kemana lelaki itu? Apa dia sudah muak dengan sikapku yang selama hampir sebulan ini selalu mencoba mendekatinya? Selalu mencoba mencari perhatiannya? Apa sikapku selama ini salah terhadap dirinya?

Tapi… tapi, aku benar-benar ingin bisa mengenalnya, bisa dekat dengannya, bisa… bisa bersama dirinya. Apakah itu sebuah harapan yang konyol dan sia-sia? Entahlah, aku tidak tahu.

Waktuku di Singapura hanya tinggal tiga hari lagi, apa mungkin bisa selama tiga hari terakhir ini aku berkencan dengannya? Semoga saja Tuhan mengabulkan.

Kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Pukul 22.00 dan peron MRT China Town sudah mulai sepi. Tepat di sebelah kananku seorang lelaki paruh baya itu sedang mengutak-atik ponselnya. Tepat di sebelah kiriku, seorang wanita memangku anaknya yang sedang tertidur. Dan aku sendiri—di sini, hanya diam tidak melakukan apa-apa.

Read more...

There Must Be Love


Sudah hampir setahun ini entah mengapa aku masih saja memikirkannya, memikirkan laki-laki itu, laki-laki yang seharusnya tak usah kupikirkan. Ia hanyalah sebuah sosok sepintas belaka, sosok pelengkap, sosok penghibur, sosok… entahlah, yang jelas dan dengan sangat jelas, aku tak pantas untuk memikirkannya, dan itu hanya akan membuang waktuku saja jika hanya terus memikirkannya.

“Kau memikirkannya lagi?”

Kuangkat wajahku, kutatapi wajah Joan di hadapanku sejenak, lalu kutarik tipis bibirku.

“Adam?”

Kuhela napas panjang saat Joan menyebutkan nama itu. “Never mind!” tanggapku.

Read more...

The Course of Nurul Fikri

Ternyata sudah sebulan lebih saya tidak posting cerita-cerita lagi. Saya sangat merindukan sekali akan di mana saat saya menulis, membuat cerita, berimajinasi, dan segala hal tentang bercerita. Tapi, apa daya waktu yang tidak mempertemukan saya dengannya? Karena akhir-akhir ini saya cukup sibuk atau bahkan sangat sibuk sekali (maklum, memasuki semester dua di kelas tiga sekolah menengah atas) karena saya harus banyak mempersiapkan diri untuk bertemu dengan lawan saya nanti pada tanggal April 16, 2012 yaitu, UJIAN NASIONAL!

Well, sejak memasuki semester dua ini saya jadi sibuk akan les dan konsultasi pelajaran di tempat bimbel saya. Saya setiap hari pasti 'menyetor' wajah saya ke tempat bimbel (hehehe) dari hari senin sampai ahad, sampai-samapi pengajar-pengajar, siswa-siswi dan para staff di bimbel saya sampai hafal dengan wajah saya. Beberapa pengajar kalau melihat saya pasti berkata, "Eeeh, kamu lagi kamu lagi," atau "Loh, kok kamu ke sini lagi?" atau "Udah, kamu jadi staff di NF aja, Des!" atau lagi "Kamu kok rajin banget ya dateng?" atau bahkan, "Kenapa setiap selasa saya ke sini, pasti ada kamu?" dan yang pertanyaan terakhir itu langsung dijawab oleh seorang staff, "Wah, dia mah setiap hari dari senin sampai ahad di sini, terus, Bu, always!" Dan tanggapan saya hanya tertawa saja. Dan tentang tanggapan beberapa siswa-siswi, "Eeeh, lo lagi, lagi konsul ya?" atau, "Eh, ketemu si kakak lagi, lagi ngapain, Kak?" atau, "Ya Allah, Des, lo rajin banget?" dan kurang lebihnya semacam itu.

Tapi, untungnya saja tempat bimbel saya yang bernama NF alias Nurul Fikri ini adalah salah satu tempat bimbel yang sangat beda dari yang 'beda', saya boleh setiap hari konsultasi, boleh ikut kelas lain walau hari pokok saya hanya senin dan rabu. Dan para pengajar di NF juga amat sangat banyak dan asik-asik.

Dan... memang cukup melelahkan setiap hari harus datang ke NF. Tapi, apa boleh buat? Pertandingan melawan UN sebentar lagi, jadi saya harus ekstra keras mendalami materi-materi yang diujikan nantinya.

Yah, the point is, I have to study harder and harder, I'll do my best!!
Read more...
 
Masterpiece © 2008 Dessy Amalya. Supported by Dessy Amalya